SHELL – LESS CULTURE
Oleh :
Novi Sri Wahyuni B1J009074
Lifannur G. Tyas B1J009197
Ganesha R. R B1J010149
TUGAS
TERSTRUKTUR KULTUR JARINGAN HEWAN
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS
BIOLOGI
PURWOKERTO
2012
PENDAHULUAN
Kultur
jaringan (tissue culture) pertama
kali digunakan pada abad 20. Metode ini mempelajari perilaku sel hewan yang
bebas dari pengaruh variasi sistemik yang dapat timbul saat hewan dalam keadaan
homeostasis ataupun dalam pengaruh percobaan (experiment). Saat ini kultur jaringan telah mengalami perkembangan
yang berfungsi mempelajari aspek mekanisme kontrol dan diferensiasi fungsi sel.
Berikut kultur jaringan yang sudah berkembang pesat: kultur sel-sel khusus, chromosome painting, dan DNA fingerprinting, tetapi teknologi dasar
yang awal dikembangkan, berupa
teknik
kultur primer, pasase serial, karakterisasi, preservasi sel, dan yang lainnya, prinsipnya masih lama (Achmad, 2007).
Istilah umum kultur jaringan
meliputi kultur organ ataupun kultur sel. Kultur organ lebih banyak digunakan
untuk kultur jaringan tiga dimensi yang tidak terurai dengan sebagian atau
seluruh gambaran histologinya yang secara in
vivo masih utuh. Sedangkan, istilah kultur sel digunakan untuk berbagai
kultur yang berasal dari sel-sel yang terdispersi yang diambil dari jaringan
asalnya dari kultur primer atau dari cell
line atau cell strain secara
enzimatik, mekanik, atau disagregasi kimiawi. Kultur histotypic digunakan untuk kultur jaringan yang menggabungkan
kembali sel-sel yang telah terdispersi sedemikian rupa untuk membentuk kultur
jaringan menyerupai struktur tiga dimensi. Contohnya pada pertumbuhan yang
berlebih pada kultur monolayer,
reagregasi pada suspensi sel, atau infiltrasi matriks tiga dimensi seperti pada
penggunaan gel kolagen. Istilah kultur organotypic
digunakan pada kultur dengan prosedur seperti kultur histotypic tetapi penggunaannya mengkombinasikan sel dari berbagai
jenis yang berbeda, contohnya adalah keratosit epidermal yang dikombinasikan
dengan mereagregasikan fibroblas dermal (Achmad, 2007).
Saat ini penggunaan
teknik kultur sel sudah demikian luasnya dalam dunia biologis maupun medis.
Secara fundamental, tujuan para peneliti dan pekerja dalam bidang kultur sel
adalah mempersiapkan sel untuk dikultur lebih lanjut dan juga untuk
memeliharanya dalam sistem yang bebas kontaminasi walaupun dilakukan subkultur
berulang-ulang sesuai keperluan. Makin berkembangnya bidang bioteknologi
menyebabkan kegiatan kultur sel menjadi ikut meluas. Berbagai metode baru telah
dikembangkan sejalan dengan kebutuhan yang makin kompleks. Beberapa bidang ilmu
yang menggunakan kultur sel antara lain biologi seluler, imunologi,
farmakologi, biokimia, virologi, genetika, dan produksi berbagai bahan
biologis.
Metode kultur
yang tengah banyak digunakan untuk
mengkaji perkembangan pada tahap embrio adalah shell-less
culture. Metode ini
dapat
diandalkan untuk menguji kadar gula dari tahap perkembangan embrio. Kadar
glukosa yang berlebihan dapat berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan janin,
termasuk pengembangan sistem saraf pusat, keterbelakangan pertumbuhan. Kemudian
pembangunan dan komplikasi bawaan malforasi telah banyak diinformasikan pada
bayi dari ibu yang mengalami diabetes dari kondisi kehamilan normal. Metode shell-less culture juga dapat
dipergunakan untuk memastikan efek dari pengobatan glukosa pada embrio ayam yang
berkembang setiap tahap, untuk mengidentifikasi gangguan pertumbuhan, dan
berbagai malformasi tergantung pada konsentrasi glukosa dan tahap pembangunan
(Datar, 2005). Selain untuk menguji kadar glukosa, shell-less culture juga
dapat dipergunakan untuk menguji dampak negatif pengaruh nikotin terhadap janin
yang dapat merusak sistem saraf pusat dan pengurangan kadar DNA di otak
(Hamamichi dan Nishigori, 2001). Keuntungan
menggunakan teknik shell-less culture adalah
biayanya relatif murah, sederhana, dan efektif (Tufan et al.,
2004).
Manfaat
model kultur ini diantaranya adalah sebagai media untuk mengamati
langsung perkembangan embrio vertebrata dan keragaman percobaan manipulasi
selama perkembangannya. Juga dapat berguna sebagai sarana untuk deteksi dini
faktor-faktor yang membahayakan perkembangan (Hamamichi dan Nishigori, 2001).
Selain itu menurut Taufan et al., (2005) metode ini dapat dilakukan dengan mudah, efisien, murah, sederhana,
namun dibutuhakan sedikit latihan dalam melakukan teknik ini agar didapatkan
hasil yang optimal.
PEMBAHASAN
Secara
umum kultur Shell-less embrio dapat dilakukan pada berbagai macam jenis
telur bercangkang dan pada penggunaan telur ayam sering disebut dengan chicks-in-plastic,
chick-in-a-cup. Teknik ini digunakan
untuk mengamati perkembangan embrio diluar cangkang dari hari ke 3 hingga hari
ke 18 selama masa inkubasi (Fisher, 1993). Metode kultur dilakukan secara utuh
serta terdapat hubungan antara embrio dan kantung yolk sehingga dapat diamati
perkembanganya secara langsung (Duun,
1974 dan Hammaichi dan Nishigori, 2001). Preparasi kultur shell-less
chick embryo dilakukan pada
kondisi yang steril. Albumen tipis dari telur steril
dimasukkan ke dalam cawan petri. Albumen ini berperan sebagai penahan benturan,
menyediakan bantalan untuk kultur. Bagian paling penting pada saat memindahkan
telur dari cangkang dilakukan tanpa merusak embrio dan kuning telur, serta
posisi embrio ditempatkan pada sisi paling atas dari kuning telur yang
bertujuan untuk mendukung tingkat kelangsungan hidup embrio berikutnya
(Hammamici dan Nishigori, 2001). Adapun bahan dan alat yang dingunakan berupa
etanol 70%, betadine solution, saline 0,85%, 30 mg kuning telur bubuk, 140 mg
kalsium laktat, 2 ml albumin tipis, telur ayam fertile, cawan petri, streroform
hot cup, plastik wrapping, karet gelang
(Dunn et al., 1981).
Prosedur pelaksanaannya meliputi beberapa tahapan
berikut:
1. Tahap preparasi wadah biakan (Preparation
of culture containers). Komposisi wadah kultur yang akan digunakan terdiri
dari polyethylene film yang bersifat transparan dan semipermeabel dan
dilengkapi dengan pengaman yang berupa karet pengikat pada bagian mulut cup
plastik silinder (diameter = 7 cm; tinggi = 7 cm) ditutup dengan cawan petri
yang tertutup plastik . Komposisi wadah kultur selanjutnya dipasteurisasi
dengan sinar UV selama 1 jam.
2. Penyiapan shell-less cultures. Isi
telur dipindahkan secara aseptis kedalam tempat yang telah disiapkan. Telur
fertil yang akan digunakan disemprot 70% etanol dan dikeringkan untuk
mengurangi kontaminasi dari permukaan telur. Telur diletakkan secara horisontal
dan biarkan selama 5 menit untuk memastikan posisi telur dalam keadaan stabil
(Aurbach et al., 1974). Telur dibuka dengan memecah cangkang pada bagian
bawah dan berikan 2 ml albumin ketika embrio telah berada pada bagian atas.
Pemindahan dilakukan tanpa merusak
embrio dan yolk kemudian ditambahkan secara steril dengan 30 mg bubuk cangkang
telur dan 140 mg calcium laktat yang dicampurkan dalam 2 mL albumin dengan
konsentrasi 70 mg/mL (Kamihira et al., 1998). Sesuai petunjuk, dilakukan
tahap preinkubasi telur ayam yang telah dibuahi selama 30-33 jam pada 37,5°C
pada inkubator telur sampai mencapai 9 tahap sesuai yang dijelaskan oleh
Hamburger dan Hamilton (1951). Dilanjutkan dengan menempatkan telur pada
ruangan yang sejuk untuk menghindari terjadinya pemecahan kuning telur pada
proses eksplantasi (Giles dan Bandigan, 1999).
3. Isi telur dipindahkan dalam keadaan aseptik
(di dalam lapisan berlapis) ke dalam wadah kultur melalui pemecahan sisi bawah tepi. Hanya
kultur dengan posisi blastodisc pada bagian sisi atas kuning telur yang
digunakan. Setiap shell-less culture ditutup dengan cawan yang ditutup
plastik steril, kemudian dipindahkan dalam inkubator pada 37,5°C dengan
kelembaban yang jenuh kemudian ditetaskan sesuai dengan waktu yang dibutuhkan .
Metode kultur telah banyak dikemabangkan
pada beberapa bidang serta digunakan untuk berbagai macam kepentingan, diantara
dalam bidang kesehatan dan perkembangan.
1. Shell-Less Chick Embryo Culture sebagai Model Alternatif In
Vitro untuk Mengetahui Glukosa Penyebab Cacat pada Embrio Mamalia
Pengembangan sistem pembiakan shell-less chick embryo secara
sederhana untuk mengetahui glukosa penyebab cacat. Sistem ini meliputi
pembiakan embrio ayam dari hari ke-2 sampai ke-5 masa inkubasi, yang
dihubungkan dengan kuning telur dan ketebalan albumen yang menyelimuti telur.
Embrio ayam dibiakkan pada cawan petri. Perkembangan embrio pada 24, 48 dan 72
jam pengeraman dengan perlakuan 2 konsentrasi glukosa 50 mM dan 100 mM untuk 24
jam. Perlakuan glukosa menghasilkan tingkat mortalitas lebih dari 70% pada
embrio muda. Berbagai cacat seperti pertumbuhan yang terlambat, perkembangan
jantung yang abnormal, makrosomia, exencephly dan lain-lain yang diteliti pada
embrio tua sama seperti yang dilaporkan pada embrio mamalia yang merupakan
akibat kehamilan diabetik. Glukosa penyebab cacat yang ditemukan tergantung
pada konsentrasi dan tingkatnya, ditekankan pada peran derajat hiperglisemia
dan tingkat perkembangan embrio pada anomali pertumbuhan diabetik. Penelitian
ini menjelaskan bahwa sistem tersebut dapat digunakan untuk percobaan pada
perkembangan embrio ayam pada tahap awal dan memperkirakan pengaruh toksisitas
glukosa akut seperti yang dilaporkan pada embrio mamalia pada kondisi
hiperglisemik (Datar dan Bhonde, 2005).
2. Shell-less culture of the chick embryo sebagai sistem
model untuk mempelajari perkembangan neurologi.
Pengembangan lain dari shell-less culture embryo adalah
dalam perkembangan neurologi yang bertujuan untuk menunjukkan shell-less
culture system pada embrio ayam sebagai model penelitian lapangan yang
potensial untuk mengamati perkembangan neurobiologi sehingga dapat diketahui perkembangan sistem
saraf pusat mulai dari awal, tahap three-vesicle brain stage up sampai
tahap five-vesicle brain stage ketika embrio mempunyai daya tahan 100%
untuk hidup. Kultur embrio ayam tanpa cangkang dianggap sebagai pemodelan yang
sangat baik untuk mengetahui mekanisme yang mendasari pembentukan dan
perkembangan system saraf pusat dari vertebrata (Tufan et al., 2004).
Prosedur yang dilakukan meliputi persiapan embrio ayam dengan memilih telur
fertil, persiapan wadah kultur dengan menggunakan perlatan yang telah
ditentukan, dan persiapan kultur shell-less.
3. Shell-less culture digunakan untuk mengetahui pengaruh
nikotin dari asap rokok terhadap perkembangan embrio.
Penggunaan
metode kultur tanpa cangkang ini digunakan sebagai alternatif dalam
penggunaan embrio mamalia yang dianggap lebih mahal. Penerapan kultur shell-less
ini dilkukan untuk mengobservasi efek
farmakologis dari nikotin yang dilakukan selama 2 minggu pertama masa
inkubasi. Penggunaannya dievalusi dengan menggunakan mini kamera agar
lebih praktis dan mengurangi faktor berbahaya yang dapat mempengaruhi
perkembangannya (Hammamici dan Nishigori, 2001). Penggunaan alat dan bahan
disesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapai, sedangkan pada bahasan ini bahan
yang digunakan seperti cawan petri untuk angiogenesis (Auerbach et al.,
1976). Plastik tripot untuk kultur dengan bungkus plastik sebagai metabolisme
kalsium (Dunn dan Boone, 1977) dan tempat untuk meletekkan kuning telur (Perry,
1988). Dalam hal ini faktor yang berpengaruh adalah nikotin pada asap rokok. Nikotin
dilaporkan memiliki dampak negatif pada pertumbuhan janin, termasuk
pengembangan sistem saraf pusat dan pengurangan DNA konten dalam otak ( Ferriero dan Dempsey, 1999 ). Dalam percobaan,
ayam yang terpapar nikotin telah dilaporkan mengalami perubahan biochebiokemikal
embrionik pada otak ( pennington et al. , 1994 ). Sedangkan pemaparan asap
rokok yang tinggi pada umur sebelum
kelahiran dapat mengakibatkan aborsi spontan, pemotongan placenta sebelum
matang dan berbagai jenis kelainan bentuk ( Haustein, 1999 ).
Prosedur yang harus dilakukan yaitu,
preparasi kultur shell-less embryo, persiapan larutan nikotin, persiapan
ekstrak cair asap rokok, pemberian nikotin dan ekstra cairan asap rokok pada
embrio ayam, analisis statistik pergerakan embrio, analisis kualitatif nikotin
pada ekstrak cair asap rokok. Hasil yang didapat bahwa pemberian nikotin 0,1 mg
hingga 10 mg terjadi perubahan dalam gerak embrio karena farmakologis dari
nikotin dan hasil metabolit dari nikotin. Pemberian ekstrak cair asap rokok
juga menyebabkan penurunan gerakan pada embrio. Pergerakan embrio selama 7 hari
sangat bervariasi dari 2 hingga 9 kali per menit dalam selang 3 menit selama 60
menit. Setelah
penambahan kadar nikotin, pada menit ke
15 yang paling menunjukan penurunan gerakan. Sedangkan pada kontrol terlihat pada menit ke 18, pada embrio dengan
penambahan 0,1 mg nikotin menunjukan adanya gerakan selama 20 menit setelah
penambahan, sedangkan emberio yang ditambahkan 10 mg nikotin pemperlihatkan
pemberhentian gerakan selama 15 menit setelah penambahan dan mulai kembali
normal pada menit ke 33 dan menit ke 54. Pemberian ekstrak cair asap rokok
menyebabkan penghentian gerakan embrioa selama 12 mneit setelah pemberian dan
kembali normal pada menit ke 30 dan adanya tanda-tanda kembali pada kondisi
semula pada menit ke 39 (Hammamici dan Nishigori, 2001).
KESIMPULAN
- Shell-less culture system dapat dikembangkan pada bidang kesehtan bioteknologi dan perkembangan.
- Shell-less culture system dapat digunakan sebagai evaluasi terhadap pengaruh pemberian glukosa pada enbrio, pengaruh nikotin serta dapat dikembangkan dalam neurologi.
- Teknik dapat ini dilakukan dengan mudah, efisien, murah, sederhana, namun dibutuhakan sedikit latihan dalam melakukan teknik ini agar didapatkan hasil yang optimal.
DAFTAR
REFERENSI
Achmad,
H. T. Satu Abad Kultur Sel dan
Jaringan: Perkembangan
Teknologi dan
Implementasinya. Fakultas Kedokteran Universitas
Padjadjaran.
Auerbach R, Kubai L,
Knighton D, Folkman J. A Simple Procedure for The Long- Term Cultivation of Chick
Embryos. Dev Biol. Vol 41(2) : 391-394.
Datar,
S., Bhonde, R. R. 2005. Shell-less chick embryo culture as an alternative in
vitro model to investigate glucose-induced malformations in mammalian embryos.
The review of Diabetic Studies. Vol 2 (4) :
221-227.
Dunn BE. Technique of Shell-less
Culture of The 72-Hour Avian
Embryo. Poult. Sci. 53:
409–412.
Dunn, B.E., Boone, M.A.,
1977. Growth and Mineral Content of Cultured Chick Embryos. Poultry Sci.
56 : 662–672.
Dunn, B.E., Fitzharris,
T.P., Barnett, B.D., 1981. Effects of Varying Chamber Construction and Embryo Pre-incubation
Age on Survival and Growth of Chick Embryos in Shell-less Culture. Anat. Rec.
199 : 33–43.
Ferriero, D.M., Dempsey,
D.A., 1999. Impact of Addictive and Harmful Substances on Fetal Brain Development.
Curr. Opin. Neurol. 12 : 161–166.
Hamamichi,
S., Nishigori, H. 2001. Establishment of a chick embryo shell-less culture
system and its use to observe change in behavior caused by nicotine and
substances from cigarette smoke. Journal Toxicology Letter. 119 : 95-102.
Hamburger V, Hamilton HL. A
Series of Normal Stages in The Development of Chick Embryos. J Morphol.
88 : 49-92.
Haustein, K.O., 1999.
Cigarette Smoking, Nicotine and Pregnancy. Int. J. Clin. Pharmacol. Ther.
37 : 417–427.
Kamihira, M., Oguchi, S.,
Tachibana, A., Kitagawa, Y., Iijima, S., 1998. Improved Hatching for in Vitro Quail
Embryo Culture Using Surrogate Eggshell and Artiļ¬cial Vessel. Dev. Growth
Differ. 40 : 449–455.
Perry, M.M., 1988. A Complete
Culture System for The Chick Embryo. Nature. 331 : 70–72.
Tufan,
C. A., Akdogan, I., and Adiguzel, E. 2004. Shell-less culture of the chick
embryo as a model system in the study of developmental neurobiology.
Neuroanatomy. Vol 3 : 8-11.

